.:: SELAMAT DATANG DI BLOG SAURY...JANGAN LUPA KOMENTARNYA YA TEMAN-TEMAN ::.

Senin, 14 Mei 2012

Analisis Puisi Do'a Chairil Anwar- nada & bunyi.

PUISI DOA KARYA CHAIRIL ANWAR
Doa
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin. di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Puisi ³Doa´ karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. Pertama, diksi yang digunakan sangat kentaldengan kata-kata bernaka ketuhanan. Kata `dua´ yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi seorang penyair dengan SangPencipta. Kata-kata lain yang mendukung tema adalah Tuhanku, nama-Mu, mengingat Kau,caya-Mu, di pintu-Mu. Kedua, dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungan dirinya yang menyadari tidak bisa terlepas dari Tuhan.
Tuhanku”
Adapun analisis yang dapat kelomok kami sampaikan pada analisis bait pertama sebagai berikut:
Pada bait pertama diatas terdapat tekana bunyi vocal u dan konsonan n yang diucapkan berat sehingga  menggambarkan perasaan murung, sedih dan gundah yang mendalam dirasakan oleh penyair. Kombinasi bunyi tersebut dapat memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau balau dan parau. Hal ini karena kekhusukan atau kesungguhan penyair dalam mengadu kepada Tuhan tentang kegundahan hatinya. Pengulangan kata “ Tuhanku” yang berupa penyebutan berulang-ulang sebanyak empat kali dalam sajak itu sesuai dengan sifat sajak itu sebagai doa. Karena dalam berdoa orang biasa menyeru Tuhan berkali-kali.
Pada baris sajak “Tuhanku” terdapat irama tinggi dan menurut. Irama tinggi pada kata Tuhan, karena yang kita tahu, Tuhan merupakan pencipta dari segala makhluk serta yang memiliki derajat yang paling tertinggi makanya kata Tuhan digunakan oleh seorang penyair dengan nada tinggi. Sedangkan kata yang terdapat nada rendah yaitu pada kata Ku, kata ku terdapat atau menggunakan nada rendah karena menunjukan seorang makhluk yang paling rendah serta untuk menunjukkan jikalau status seorang penyair hanya sebagai hamba. Kata Ku juga menggunakan nada rendah karena seorang penyair ingin mengharapkan dalam kegundahan serta ingin mengadu kepada Tuhan yang memiliki segala kuasa akan setiap hati yang merasa.
Selain diatas pada kata “Tuhanku” terdapat juga rima, yang dapat dianalisis rima ditunjukkan pada lambing “U”. lambing U ditunjukkan oleh seorang penyair dengan berulang-ulang serta sangat menonjol, karena seorang penyair ingin menunjukkan kepada tuhan dengan perasaan, bukan dengan tangan, karena untuk bisa berbicara, mengadu kepada tuhan hanya bisa dilakukan dengan perasaan.
“…Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu”
Adapun analisis yang dapat kelompok kami sampaikan pada analisis bait sajak kedua sebagai berikut:
Pada baris ini terdapat bunyi konsonan a,e,i dan u yang yang pada umumnya untuk melukiskan rasa senang, riang dan hati yang ringan namun diucapkan terasa berat dan rendah sehingga melukiskan perasaan sedih dan gundah. Diperjelas dengan adanya bunyi sengau  akhiran ng pada kata termenung sehingga memperjelas suasana hati penyair yang menyatakan didalam kegoyahan imannya ia masih menyebut nama Tuhan dalam doanya.
Pada baris sajak “ …dalam termangu…” terdapat nada mendatar, menekan, serta menurun. Kata yang terdapat mendatar, menekan yaitu pada kata Dalam, kata “dalam” digunakan oleh seorang penyair dengan dana mendatar, menekan, karena menurut analisis dari kelompok kami, kata dalam dapat diartikan sebagai perasaan yang dialami oleh seorang penyair yang ingin tersentak dengan  segala situasa yang ada di lingkungannya. Pada baris kata Termangu terdapa nada irama mendatar serta pada akhirnya menurut, akibat dari nada menurut mengakibatkan lambing U hamper samar-samar kedengaran. Berdasarkan analisis nada serta irama diatas dapat kelompok kamik tafsirkan penggunaan nada yang digunakan oleh seorang penyair, dia ingin menunjukkan akan kegundahanya yang hampir tidak bertepi serta tidak berujung dalam hidupnya, sehingga mengakibatkan samar-samar pada lambing U.
Pada baris sajak “…Aku masih menyebut nama-Mu…”. Terdapat nada serta tempo-tempo berapa kali. Nada mendatar terdapat pada keseluruhan baris tersebut, sedangkan tempo terdapat diantara kata “Aku masih  ….  Menyebut nama-Mu”. Nada yang mendatar yang pendek dapat diartikan sebagai suatu kepasrahan seorang penyair, jikalau walaupun dalam gejolak permasalahan dia akan selalu mengingat Tuhan, nada mendatar merupakan kepasrahan yang sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan pada tempo yang pendek, digunakan seorang penyair untuk membatasi akan statusnya sebagai hamba, dan status tuhan adalah Tuhan “raja diatas raja”.
“…Biar susah sungguh…”
Pada bait tersebut terdapat kata yang besifat konsonan sudah dapat kita tafsirkan makna bunyi yang digambarkan oleh seorang penyair sebagai lambang dari huruf (r) dan (h), pada simbol r dalam kata biar merupakan tekanan di dalam yang digambarkan oleh seorang penulis sebagai suatu kesakitan yang sangat mendalam, sedangkat pada simbol h dalam kata susah sungguh seorang penulis menggambarkan kesakitan yang sudah tidak mampu dipendam lagi sehingga menggunakan simbol h sebagai lepasan bunyi, menggambarkan ketidak sanggupan lagi dalam menanggung beban permasalahan sehingga lebih dilepaskan yang menimbulkan bunyi desahan sebagai lambang kesakitan yang dialaminya kemudian menyebabkan penyair sulit serkonsentrasi dalam berdoa.     
Pada baris “…Biar susah sungguh…” tidak ternapat nada tinggi atau turun tetapi seorang penyair lebih menggunakan nada mendatar serta irama mengalaun, serta terdapat rima (pengulangan bunyi).
Nada mendatar pada baris syair ini secara keseluruhan, dana mendatar tersebut digunakan atau diwakili oleh seorng penyair akan permasalahan yang selalu ada, serta tidak kelihatan punyak atau penyelesaian dari permasalah yang dia hadapi. Sepertihalnya uraian analisi diatas, penyair lebih mempertegas lagi dengan menggunakan irama yang mengalun sebagai suatu ketegasan akan permasalah yang tidak ketaui kapan kan selesai. Selain itu, pada baris syair ini juga terdapat rima (pengulangan bunyi), rima terdapat pada kata Susah… Sungguh.. yaitu dilambangkan dengan simbol “H” sebagai desahan yg sangat teramat sakit.
“…Mengingat Kau  penuh seluruh…”
Pada bait tersebut terdapat vocal u yang dominan pada kata …kau penuh seluruh…yang menggambaran perasaan yang tidak menentu atau gundah yang dialami penyair. Juga terdapat bunyi liquida r  dan konsonan h yang menggambarkan penuh curahan perasaan betapa sulitnya berkonsentrasi penuh pada saat mengalami kegoncangan iman.
Pada baris puisi diatas, dapat kelompok kami analisis yang berhubungan dengan nada. Terdapat tekanan-tekanan yang sangat amat mendalam yaitu pada kata Mengingat (terdapat tiga ketukan), Kau (terdapat tiga ketukan), Penuh (terdapat dua ketukan), seluruh (mendatar). Berdasarkan ketukan-ketukan yang dilakukan seorang penyair dalam membaca setiap kata pada baris ini maka dapat kami analisis. Pada kata pertama Mengingat, berisi tiga ketukan, menurut kami, pada kata pertama seorang penyair masih dalam keadaan yang bingung akan apa yang sedang dihadapinya makanya dia seperti lupa sehingga terdapat tekanan yang sedikit panjang. Sepertihalnya pada kata Mengingat, jiga pada kata Aku, berisi tiga ketukan karena menurut kami, disini dapat pempertegas dari kata yang pertama dia ingin menunjukkan jikalau yang sedang binggung itu adalah dia sendiri bukan orng lain, makanya terdapat ketukan yang sama. Pada kata yang ketiga Penuh, penyair menggunakan dua ketukan, karena walaupun menggunakan kata penuh namun sebenarnya dari diri penyir itu sendiri menginginkan apayang dia hadapi sekarang dekit berkurang.
“Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi”
Pada bait sajak diatas menggunakan simbol (i, i) sebagai dominan, yang dapat menimbulkan bunyi vokal yang lepas tanpa adanya bunyi pembatas, sebagai suatu makna goncangan imam yang dihadapi penyair. Kenapa seorang penyair menggunakan lambang bunyi vokal sebagai dominan dalam kalimat tersebut karena pada pembunyian dominan tidak terdapat batasan dalam melafalkan serta keluarnya bunyi sebagi lambang pemaknaan sehingga dengan leluasa penyair bisa mengikuti segala permasalahan yang sedang dihadapi dengan mengalir seperti air.
Pada kedua baris kata diatas, tidak terdapat irama naik turun Cuma hanya tersapat tekanan-tekanan, seperti pada kata Cahya. Mu. Panas. Suci, pada baris kata ini dipotong-potong oleh seorang penyair dalam pengucapannya dengan tekanan tempo-tempo yang pendek namun kelihatan. Penyair menggunakan tekanan tempo-tempo pada kata ini maka dapat kami ilustrasikan jikalau keinginan seorang penyair tak terdapatkan, semua jawaban yang diainginkan tidak terjawab, makanya dia menjeda-jeda sebagai rasa ketidak puasan terhadap apa yang terjadi.
            Pada baris kata selanjutnya juga tidak terdapat irama naik turun, yang ada hanya mendatar, serta satu kali yaitu diantara kata “…. Lilin….di kelam sunyi….”. jadi terdapat pemisah antara lilin dan dikelam sunyi, karena yang kita ketahui terang dan kegelapan tidak akan bisa menyatu dalam satu waktu, maka dari itu penyair membatasi akan apa yang dia rasakan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
“…Tuhanku…”
Pada baris kata ini terdapat nada mendatar, meninggi dan menurun seprti pada halnya kata Tuhanku syair paling atas, nada mendatar terdapat pada kata “Tu” pada kata Tu penyair menggunakan nada mendatar karena dia masih ragu, apakah harus kepada tuhan atau pada siapa dia kan mengadu. Sedangkan nada tinggi terdapat pada kata “Han”, setelah dia berfikir baru terdapat keyakinan dari seorang penyair jikalau bukan kepada tuhan, kapada siapa lg kan mengadu, tuhan pemilik segala apa yang ada di bumi dan apa yang ada di langit dan dia juga yang membuat dan menyelesaikan setiap permasalahan jadi dia mulai mengadu. Pada kata “Ku” menggunakan nada rendah kare seorang penyair tau akan statusnya hanyalah seorang hamba dan harus lah merendahkan diri.
“…Aku hilang bentuk
Remuk…”
Pada bait diatas terdapat vokal u yang dominan namun diungkapkan dengan berat dan dipertegas dengan bunyi kakofoni k yang tidak merdu atau parau memperjelas perasaan yang mendalam. Dalam hal ini menyair menyadari akibat dosanya ia seakan merasa sudah kehilangan bentuk dan remuk. Ia tidak mengenali dirinya lagi.
Pada kedua baris ini secara sepontan penyair menggunakan nada irama tinggi setelah nada menurun pada kata Tuhanku. Dapat kami analsis jikalau penyair menggunakan nada tinggi secara sepontan karena dia ingin menunjukkan serta menyakinkan kepada Tuhan jikalau seluruh jiwanya sudah tidak sanggub menahan beban sangat amat mendalam sehingga seluruh pada terasa sakit semua sebagai akibat dari otak yang tak henti-hentinya berpikir tuk mencari jalan keluar akan permasalahan itu. Serta juga terdapat tempo yang sedikit menonjol antara kata bentuk, remuk, antara kata ini penyair menjeda karena dia tidak mau menjelaskan secara langsung akan pederitaan yang dia hadapi. Karena apa bila tidak menggunakan tempok yang menonjol tersebut maka akan menimbulkan Rima (pengulangan bunyi) sebagai reaksi penegasan akan kesakitan yang mendalam.
“Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing”
Pada bait diatas terdapat bunyi sengau ng yang menggambarkan curahan perasaan yang mendalam mengenang perbuatan penyair yang merasa apa yang dilakukannya bertentangan dengan yang diperintahkan Tuhannya. Selain itu juga terdapat bunyi i yang berturut-turut yang menggambarkan rasa keterpurukannya.
Pada baris kata ini tidak terdapat masalah nada yang menonjol baik itu irama, tempo, maupun rima, jadi menurut kami pada baris puisi ini hanya digambarkan oleh seorang penyair untuk pengaduannya kepada Tuhan jikalau dia sekarang sudah jauh dari apa yang sebenarnya dia jalankan.
“Tuhanku”
Sangat bertolah belakang antara baris yang diatas terhadap baris yang selanjutnya yaitu pada kata Tuhanku yaitu terdapat nada tinggi dengan penekanan yang sangat amat mendalam serta mengalun, berdasarkan nada yang dilantunkan penyair maka dari kelompok kami dapat menganalisis, akan pengaduan seorang hamba yang bukan hanya sekedar berdo’a namun lebih kepada kepasrahan diri serta mencurahkan apa yang sedang dia hadapi, makanya menggunakan nada tinggi mengalun seolah-olah berteriak biar Tuhan mendengar akan apa yang menjadi do’anya.
…”Di Pintu-Mu. aku mengetuk..
Aku. tidak bisa ber paling”
Pada bait diatas, terdapat vocal u dan a berturut-turut memberi tanda kekhusukan dan kesungguh-sungguhan yang kemudian ditegaskan dengan bunyi sengau ng  penyair dalam memohon ampun atas kesalahannya dimasa lalu yang membuat ia merasa jauh dari Tuhannya. Meskipun demikian ia tetap kembali kepada Tuhannya.
Pada baris puisi ini dapat kami analisis terdapat tekanan pendek, tekanan sedikit panjang dengan suara isakan nafas, tekanan yang berasa serta jedah panjang. Analisis kami ini dapat digambarkan; tekanan pendek terdapat pada kata Di pintu-Mu.seorang penyair menggunakan tekanan pendek karena disini dia mencoba memasuki apa yang tidak bisa kita bayangkan, namun tidak bisa dia laukan karena ketidak sanggupan sebagai status hamba. Pada tekanan yang sedikit anjang dengan suara isakan yang mendesah aku mengetuk.. Aku., merupakan penegasan atau dia ingin berusaha memasuki suatu waktu namun tetap saja tidak bisa, maka dari itu penyair menggunakan jedah panjang sebagai simbol usaha dalam hidupnya. Sedangkan pada tekanan yang berasa serta jeda panjang terdapat pada kata Ber….paling, pada kata initerdapat tekanan yang berasa dan jeda panjang diwakili oleh seorang penyair akan keakhiran dari apa yang dia hadapi. “Cukup sampai disini permasalahan yang saya hadapi” utur penyair.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design By Catatan Saury | Bloggerized by Lasantha - Catatan Saury | Catatan Saury